Dampak Revolusi Industri 4.0 Terhadap Pariwisata – Pergeseran Gaya Hidup dan Cara Berwisata di Pada Revolusi Industri 4.0

Pengaruh dunia digital ini juga membawa dampak buat sektor pariwisata. Sewindu sudah revolusi industri 4.0 mulai bergerak sejak tahun 2011, ditandai dengan dibukanya pasar industri dengan pesaingan di era digital melalui berbagai pertukaran dan jual beli melalui internet maupun berbasiskan aplikasi, travel agen digantikan oleh online travel agen, tour guide digantikan guide berbasis sistem aplikasi seperti google maps, waze dan lain sebagainya. Serta produk-produk souvenir yang biasanya hanya dapat dijumpai di destinasi wisata setempat, kini dapat diakses dan bertebaran di online shop, layanan resepsionis digantikan oleh sistem operasi reservasi.

Studi menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran yang sangat penting dalam proses perencanaan perjalanan wisata. Wisatawan melakukan berbagai aktivitas didunia daring yang berkaitan dengan rencana perjalan wisatanya. Secara tradisional, proses pengambilan keputusan memilih lokasi tujuan wisata dilakukan melalui informasi dari mulut ke mulut atau dikenal sebagai Word of Mouth. Sebelum wisatawan memutuskan lokasi tujuan wisata, biasanya mereka akan mencari informasi terkait dengan lokasi tujuan melalui orang orang yang pernah mengunjunginya. Namun, kebiasaan ini telah berubah secara drastis ketika media sosial sudah menjadi konsumsi sehari hari masyarakat. Informasi dalam media sosial yang diunggah oleh pengguna, atau dikenal sebagai electronic Word of Mouth( eWOM), merupakan sumber informasi tentang lokasi kunjungan wisata yang biasa diakses oleh calon wisatawan. Informasi dalam media sosial ini, mampu menyediakan informasi yang bersifat non komersial, dan lebih lengkap karena dapat dilengkapi dengan berbagai gambar dan video. Kasus nyata adalah kunjungan wisatawan yang membludak ketika gambar sebuah kebun bunga Amarilis di Gunung Kidul disebarluaskan melalui media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran yang sangat penting untuk menarik minat wisatawan. Secara umum, peran media sosial dari perspektif wisatawan adalah membantu menyediakan informasi dan memudahkan pencarian informasi mengenai lokasi kunjungan wisata. Peran media sosial juga ditemukan selama proses perjalanan wisata berlangsung, seperti untuk mencari lokasi dan promo menarik yang ada.

Dengan adanya fenomena tersebut, satu hal yang pasti bahwa, ketika revolusi industri itu tiba di daerah-daerah, otomatis sistem pasar dari hulu ke hilir industri pariwisata yang dikenal dengan industri padat karya, akan terdampak dan akan habis dirambahnya. Kita sebagai masyarakat tidak perlu terkejut dengan fenomena ini, dikarenakan sebagian besar kita sudah mulai terbiasa dengan fenomena tersebut, dan juga sudah diterapkan baik diskala industrial maupun personal diberbagai kota di Indonesia.

Sebagai contoh di pulau penghasil devisa terbesar pariwisata wisata yaitu Bali, sudah dikembangkan aplikasi Bali Tour Guide untuk perangkat android yang memberikan informasi mengenai objek-objek wisata di Pulau Bali. Sedangkan di kota pelajar Pemda DIY sudah meluncurkan aplikasi yang bernama Jogja Istimewa guna menunjang mobilitas wisatawan berkunjung ke Jogja, dengan salah satu fitur CCTV disetiap sudut kota dapat diakses untuk mengetahui kondisi jalanan melalui aplikasi ini. Dengan bermodalkan internet, gadget atau smart phone, semua urusan traveling bisa dibereskan tanpa menggunakan tenaga manusia. Sudah saatnya kita masyarakat yang mempunyai pola pikir maju sadar dan membuka mata kita, kata-kata bombastis dan janji-janji manis berhenti diucapkan sambil menyusun strategi persiapan untuk perubahan era industri 4.0. Untuk itu, salah satu langkah yang jelas dan dapat diimplementasikan pada saat ini adalah dengan menginvestasikan generasi milenial menuju perubahan revolusi industri pariwisata kedepan, sehingga menguatkan prospek yang kita punyai agar mampu bersaingan secara global di bidang sumber daya manusia, yaitu generasi milenial yang kompeten di industri pariwisata.

Wisatawan milenial memang memiliki power yang cukup kuat di dunia pariwisata, karena mereka besar dan aktif di dunia maya, tapi belum dilayani dengan baik. Hal inilah yang akan dilakukan Kemenpar, yakni memfasilitasi kesediaan pariwisata terbaik bagi kaum milenial. Salah satunya dengan Millenial Tourism Corner. Millenial Tourism Corner adalah sebuah Program unggulan Tim Percepatan Pengembangan Millenial Tourism Kementerian Pariwisata Indonesia sebagai sarana Pendorong minat generasi milenial dalam keterlibatan pada Industri Pariwisata.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai